Langsung ke konten utama

Postingan

Janji Bocah

Maninjau, suatu dini hari akhir tahun 70-an. Pagi itu kami terjaga lebih cepat. Suara bayi membahana dari tengah rumah. Saya terbang dari kamar tidur. Ada perempuan terbujur dengan kedua kaki menganga di lantai. Mata bocahku sempat menangkap lubang di sana sebelum seorang bapak menggeser badannya menutupi. Aku lalu berputar ke dapur dan mendapati mami sedang memasak air panas. Antara senang dan sedih karena tak jadi senang. Senang karena bukan mami korban yang terbujur itu. Kecewa karena suara tangisan bayi tadi bukan bayi mami yg berarti bukan adikku. Dari mami aku tahu kalau yang terbujur itu adalah istri Pak Siabu. Istrinya yang hamil tua sudah kebelet, sehingga bayinya tak sempat mendarat di kamar bersalin bidan yang berada di belakang rumah kami. Bayinya akhirnya bertumpahdarahkan lantai teras rumah kami. Seringkali aku bertanya-tanya siapa nama anak Pak Arnas itu. Orang Batak biasa menamai anaknya dari tempat atau kejadian yang bertepatan dengan kelahiran. Bisa saja a...

Çay Semblohay

Teh Turki atau çay berasal dari bahasa Arab شاي  (sya:y) yg artinya, iya, teh. Ç cedilla atau c berdiakritik bawah itu dilafalkan seperti /c/ dalam "cinta", sedangkan /c/ polos Turki dibaca seperti /j/ dalam "jet". Terus, /j/ bagaimana? Huruf /j/ mereka bunyikan seperti /j/ Prancis. Kira2 mirip /zh/ atau /z/ kita. Untuk menampung fonem yg kaya mereka "terpaksa" menggunakan diakritik. Tidak hanya konsonan, vokal mereka jg berdiakritik, contohnya nama Mesut Özil. Cay rasanya lebih kelat. Rasa kelat itu tersisa di tenggorokan beberapa saat setelah diteguk. Teh kelat itu istimewa, mulai dr tulisannya, bahan, takaran, suhu waktu dipanaskan sampai tadah dan gelasnya, semuanya tertentu. Gulanya juga khusus, gula putih berbentuk kotak yg tinggal ditambahkan mata di keenam sisinya, jadilah dia dadu, bisa untuk main ular tangga. Gula itu bukan gula batu kita yg kerasnya kayak akik. Gula itu adalah gula pasir halus sekali yg dipadatkan menyerupai kotak. Mungkin ...

Orwellian Berseragam Abu-Abu

Pas keluar dari sesaknya bus Transjakarta Senin pagi lalu (3/1) mataku terpancang pada tangan anak muda yang berjalan di samping. "Ekstensi" tangannya menarik karena tak biasa. Bukan gadget elektronik, ekstensi tangan populer anak muda kini. Di genggaman tangan kiri anak muda itu melekat buku tebal berbahasa Inggris. Di punggung buku sangat jelas terpajan: WHY NATIONS FAIL. Buku non-fiksi terkenal tentang politik-ekonomi hasil duet profesor ekonomi MIT, Daron Acemoglo dengan ilmuwan ekonomi Harvard, James A. Robinson. Gawai tak biasa, dengan tema yang lebih tak biasa lagi di tangan "bocah" berseragam putih abu-abu. Gawai di tangan anak muda berkacamata itu kelas tinggi. Itu layaknya bacaan pemimpin negara kayak Presiden Joko Widodo. Namun si bocah telah menentengnya ke mana-mana menemani waktu luangnya. Jangan dulu dibandingkan dengan kawan sebanyanya yang masih keranjingan mengeja permainan daring PUBG atau Freefire, saya saja waktu...

Musim Poster (Datang) Lagi

Jalan yang biasa kami lalui mulai ramai kembali. Tembok-tembok, batang pohon, papan iklan, dan semua yang memiliki permukaan yg bisa ditempel, tenggelam dalam lautan poster. Poster jelek yang membosankan. Hanya muka yang berbeda tapi gaya dan jualannya masih sama. Wajah-wajah di poster selalu tertawa atau tersenyum. Memang kelihatan pada ganteng dan cantik. Entah dibuat gitu atau memang aslinya gitu. Tapi tak mungkinlah semua pada begitu. Lagi pula tampilan fisik tak menjadi syarat untuk jadi itu. Tampilan fisik hanya usaha agar yang memilih berkenan. Mungkin menurut mereka masyarakat lebih menyukai orang yang ramah dan baik. Perimeter spekulatif dua hal itu adalah senyum. Entah rumus dari mana. Jadi ingat foto bayi montok yang selalu tersenyum tanpa dosa sambil gedek2 kepala di jam dinding... he he Di antara ratusan poster muka yang menggantikan fungsi rambu lalin dan hijaunya pepohonan terselip satu gambar ganjil. Ganjil kerana tampil "aneh" ...

Bukan Cerita Hantu*

"Ayah temenin dari kasur aja, ya, Ray? Ga usah di samping Aray". Kataku sambil terkantuk-kantuk ketika diminta Aray tidur menemaninya di kasur kecil di bawah. Dia biasa minta dikawani kalau menonton kanal Youtube Kids kesukaannya. Sepertinya dia takut. Mungkin masih terbayang tontonan seram yang sering tak sengaja dilihatnya. "Iya, Yah. Nanti kalau ada hantu, nih , Ayah teriak aja dari sana: woi.. ngapain , kamu! Terus hantunya kaget dan langsung bilang: maaf, maaf, maaf," kata Aray sambil bersedekap menirukan gaya hantu minta maaf. Aku tergelak membayangkan hantu yang seram terbungkuk-bungkuk bersedekap minta maaf karena ketahuan mau menggodanya. Mengenai hantu, kalau benar, yang suka menakuti anak-anak saya teringat film keluaran Pixar tahun 2001, Monster Inc. Film itu bercerita tentang kota para hantu lucu yang listriknya ditenagai dari teriakan anak-anak. Pekerjaan para hantu di sana adalah menakuti anak-anak agar menjerit. Energi jeritan anak itu digu...

Bill Gates di Rumah Makan Padang

Sejak 2017 Bill Gates telah mendonasikan semua sahamnya di Microsoft yang telah menjadikannya orang terkaya di dunia, bergantian dengan bos Amazon, Jeff Bezos. Gates menyisakan satu persen saja untuk dirinya. Satu persen saham Microsoft, yang konon total nilai pasarnya mencapai USD1 triliun, sama dengan Rp138,5 triliun. Cukup untuk membeli delapan skuadron pesawat F-16 blok 52 untuk menakut-nakuti Cina di Natuna.  Gates dan beberapa orang superkaya di Amerika seperti tengah mengalami " aufklärung " dan tersadar bahwa sistem kapitalis telah menempatkan mereka di posisi yang sangat tinggi dan tak seharusnya. Terlalu tinggi untuk dijangkau pajak. Sistem itu membuat mereka semakin kaya, sehingga jarak antara kaumnya dengan para pekerja seperti jarak antara pucuk antena satelit dengan dasar sumur. Kompas.money.com pada 4 Januari 2020 lalu, mengutip curhatan Gates: "Sebagai pengusaha kita harus memberikan saham kepada setiap orang yang bekerja untuk kita. Titik. Tida...

Kotaklema

Di KBBI (Kamus Besar bahasa Indonesia) ada entri "kotaklema". Entri itu tidak berdefinisi "kotak" plus  "lema", tetapi merujuk pada physeter macrocephalus . Nama latin dari mamalia laut raksasa dengan mulut bergiginya yang terbesar di dunia. Nama itu berasal dari bahasa Lamaholot, di Pulau Lembata, Desa Lamalera, Nusa Tenggara Timur.  Bentuk kepala paus itu yang mengotak, sepertinya, menjadi acuan mereka menamai paus itu dengan kotaklema. Bahasa Inggis menyebut paus itu  sperm whale yang merujuk pada spermasetin di kepala si paus kotak. Kanal televisi  berbayar NatGeo menerjemahkannya dengan "paus sperma" di takarir bahasa Indonesianya. Orang Lamaholot yang berdiam di desa Lamalera, Lembata itu tidak hanya memiliki panggilan "sayang" untuk si kepala kotak. Ada sekeranjang kosakata lain terkait alat dan konsep sekitar ikan paus itu dan perburuannya, contohnya "lamafa", "paledang", "leo", dan "te...